Mediatani. Id, Berau- Dinas Pangan Berau berupaya membangkitkan minat generasi muda khususnya generasi Z, untuk terjun ke sektor pertanian.
Langkah tersebut dilakukan, melalui inisiasi program Petani Muda Tangguh untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan yang akan dikembangkan melalui kerja sama dengan pihak swasta.
Program tersebut mulai dibahas dalam audiensi yang digelar Rabu (3/6) lalu. Melalui program ini, Dinas Pangan ingin membuka peluang usaha bagi kalangan muda, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dengan memanfaatkan peluang pasar yang muncul dari kebutuhan penyediaan bahan pangan lokal untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekretaris Dinas Pangan Berau, Dewi Rosita, mengatakan, program tersebut lahir dari upaya mencari alternatif pendanaan dan dukungan kegiatan di tengah kondisi efisiensi anggaran pemerintah daerah.
Karena itu, pihaknya menggandeng sektor swasta untuk mendukung pengembangan petani muda di daerah.
“Kami mencoba bekerja sama dengan pihak swasta dan alhamdulillah mendapat sambutan yang baik,” ujarnya.
Sektor pertanian masih menyimpan potensi besar yang belum banyak dilirik generasi muda. Padahal, kebutuhan pangan lokal terus meningkat dan dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik.
Melalui program tersebut, Dinas Pangan ingin mendorong generasi Z agar tidak hanya melihat pertanian sebagai pekerjaan tradisional, tetapi juga sebagai peluang usaha yang mampu menghasilkan keuntungan.
Terlebih kini kebutuhan pasokan pangan lokal untuk mendukung dapur penyelenggara program MBG terus membutuhkan dukungan produksi dari daerah.
Sebagai tahap awal, Dinas Pangan bersama tim pendamping dan dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) akan melakukan survei di enam kampung yang berada di wilayah lingkar perusahaan.
Survei tersebut bertujuan mengidentifikasi potensi lahan, serta sumber daya manusia yang dapat dibina dalam program tersebut.
“Kami akan berdiskusi dengan kepala kampung untuk melihat potensi lahannya dan potensi pemudanya. Dari situ nanti kami tentukan kelompok yang bisa dibina dan didampingi,” katanya.
Lanjutnya, program akan difokuskan pada budidaya tanaman sayuran dengan masa panen relatif cepat, yakni sekitar 20 hingga 30 hari.
Selain memberikan pendampingan teknis, pihaknya juga akan membantu membuka akses pemasaran hasil panen agar dapat terserap oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sesuai standar yang dibutuhkan.
“Kami ingin SPPG memanfaatkan pangan lokal. Karena itu tidak hanya menanam, tetapi juga bagaimana hasil panennya bisa terserap pasar,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, para petani juga akan mendapat dukungan sarana produksi pada tahap awal. Bantuan tersebut meliputi pengolahan lahan, penyediaan bibit, pupuk, hingga pendampingan budidaya yang dibiayai melalui dukungan CSR.
Namun, seluruh bantuan akan disesuaikan dengan hasil survei lapangan dan kesiapan kelompok tani muda yang akan menjadi sasaran program.
“Targetnya mereka bisa berhasil dan nantinya mampu berusaha secara mandiri,” ujarnya.
Pun akan menyiapkan program tersebut sebagai model percontohan yang diharapkan mampu menarik minat pemuda lainnya.
Jika kelompok pertama berhasil, keberhasilan tersebut akan dipublikasikan sebagai contoh nyata bahwa sektor pertanian dapat menjadi pilihan usaha yang menjanjikan bagi generasi muda.
Meski minat bertani di kalangan anak muda masih relatif rendah, peluang untuk menarik generasi muda tetap terbuka.
Apalagi di tengah kondisi lapangan kerja yang semakin kompetitif, pertanian dapat menjadi alternatif usaha yang dapat dikelola secara mandiri.
Ia menilai keberadaan petani muda yang telah sukses menjadi salah satu modal penting untuk mendorong minat generasi berikutnya.
Karena itu, Dinas Pangan berencana memperkenalkan kisah sukses petani muda yang sudah berhasil agar dapat menjadi inspirasi bagi calon peserta program.
“Memang tidak banyak, tetapi ada petani muda yang sukses. Itu yang akan kita angkat dan jadikan contoh. Biasanya ketika mereka melihat langsung ada yang berhasil, minatnya akan tumbuh,” katanya.
Saat ini, program masih berada pada tahap awal setelah audiensi dengan pihak swasta. Dinas Pangan bersama mitra perusahaan akan melanjutkan pembahasan teknis, menyusun rencana kerja, serta melakukan survei lapangan sebelum menentukan lokasi percontohan yang akan menjadi fokus pelaksanaan tahap pertama.
“Yang penting ada gayung bersambut. Kami senang karena mendapat dukungan. Tinggal bagaimana menindaklanjuti dengan langkah-langkah berikutnya secara bertahap,” pungkasnya.
Sementara Anggota DPRD Berau, Abdul Waris, juga mendorong generasi muda di Berau untuk mulai mempertimbangkan sektor pertanian, sebagai peluang usaha yang memiliki prospek menjanjikan di masa depan.
Pemuda saat ini dituntut tidak hanya memiliki produktivitas yang tinggi, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi yang terus berkembang, termasuk teknologi di bidang pertanian.
Ia menilai minat kalangan muda terhadap sektor pertanian masih relatif rendah. Padahal sektor tersebut memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, sekaligus menjadi salah satu penggerak perekonomian masyarakat.
“Pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan tradisional. Berbagai inovasi dan teknologi kini telah tersedia untuk membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus mempermudah proses kerja di lapangan,” katanya.
Kemajuan teknologi pertanian saat ini berlangsung sangat cepat. Beragam teknologi mulai dari penggunaan peralatan modern, sistem irigasi berbasis digital, hingga pemasaran hasil panen melalui platform digital telah banyak diterapkan.
Tentunya, terbuka peluang besar bagi pemuda Berau untuk mengembangkan diri sebagai petani modern yang kreatif, inovatif, dan mandiri.
“Pentingnya keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian guna mencegah terjadinya krisis regenerasi petani di Kabupaten Berau pada masa mendatang,” ungkapnya.
Pun pemanfaatan teknologi dinilai mampu meningkatkan daya saing produk pertanian lokal di tengah persaingan yang semakin ketat.
Ia mengajak para pemuda lebih mengenal dan memanfaatkan teknologi pertanian. Menurutnya, generasi muda tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan di perusahaan, tetapi juga perlu melihat peluang untuk membangun usaha sendiri melalui pertanian modern.
Di sisi lain, Waris meminta pemerintah daerah memberikan dukungan yang konkret bagi pemuda yang ingin terjun ke sektor pertanian.
“Dukungan tersebut dapat berupa pelatihan, bantuan peralatan pertanian modern, serta kemudahan akses permodalan,” terangnya. (aja/sam)





