Bupati Berau Pacu Pengembangan Produk Ikan Kaleng, Dorong Nilai Tambah Sektor Perikanan

Oleh
mediatani.id
Diposting
Rabu, 5 Agu 26
Bagikan

Mediatani. Id, Kaltim- Bupati Berau, Sri Juniarsih, mendorong pengembangan produk olahan perikanan daerah agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengembangan produk ikan kaleng yang nantinya diharapkan dapat menjadi produk unggulan Berau.

Hasil perikanan sebutnya, tidak hanya harus dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi.

Ia berharap produk ikan kaleng asal Berau dapat menjadi salah satu alternatif oleh-oleh khas daerah, termasuk menyasar pasar jemaah haji dan umrah melalui jaringan hotel Indonesia di luar negeri.

“Dinas Perikanan punya program pengalengan ikan. Jika dikembangkan bisa menjadi dibawa oleh jemaah haji atau umroh yang ingin makanan Indonesia,” katanya, Selasa (4/8).

Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid, mengatakan, pihaknya terus berupaya mengembangkan produk olahan ikan kaleng sebagai salah satu upaya meningkatkan nilai tambah hasil perikanan daerah.

Saat ini, fokus utama yang tengah dikejar adalah penyelesaian izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar produk tersebut dapat dipasarkan secara lebih luas.

Pengembangan produk ikan kaleng merupakan tindak lanjut arahan Bupati Berau Sri Juniarsih, untuk memperkenalkan hasil olahan perikanan lokal hingga ke luar daerah, termasuk menyasar jemaah haji dan umrah asal Indonesia.

Produk tersebut nantinya diharapkan dapat dipasarkan di hotel-hotel Indonesia yang menjadi tempat menginap jamaah haji maupun umrah. Namun, sebelum itu dapat direalisasikan, seluruh persyaratan perizinan harus dipenuhi.

“Sesuai arahan Bupati Berau, kami ingin mengenalkan produk olahan ikan Berau lebih luas. Tetapi saat ini yang menjadi prioritas adalah mengurus izin BPOM karena produk makanan kaleng masuk kategori pangan berisiko tinggi,” ujarnya, Selasa (4/8).

Dijelaskan, proses memperoleh izin BPOM tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Berbagai persyaratan teknis harus dipenuhi, mulai dari kelayakan peralatan produksi, standar proses pengolahan, hingga pengujian mutu produk sebelum izin edar diterbitkan.

Karena itu, pihaknya masih melakukan berbagai persiapan agar seluruh ketentuan yang dipersyaratkan dapat dipenuhi. Tentunya proses tersebut membutuhkan waktu dan tidak bisa dipaksakan.

“BPOM memiliki standar yang ketat. Semua harus diuji, termasuk peralatan produksi dan sistem pengolahannya. Jadi memang harus dilakukan secara bertahap,” katanya.

Ia mengaku belum dapat menentukan target kapan izin tersebut akan terbit. Sebab, pemerintah daerah juga harus menyiapkan dukungan anggaran untuk memenuhi seluruh tahapan yang dipersyaratkan.

Saat ini, produksi ikan kaleng di Berau masih dilakukan dalam skala rumah industri atau home industry. Volume produksinya pun masih sangat terbatas dan belum ditujukan untuk pemasaran secara massal.

Kapasitas produksi saat ini baru sekitar 0,2 persen dari potensi yang dimiliki. Meski begitu, produk tersebut sudah sempat dimanfaatkan sebagai oleh-oleh bagi jemaah haji asal Berau.

“Pada musim haji tahun ini, kami memproduksi sekitar 131 kaleng untuk dibawa oleh jamaah. Saat itu produk masih menggunakan izin yang ada dan kemasannya hanya 100 gram, sehingga masih memenuhi ketentuan yang berlaku,” ungkapnya.

Setelah izin BPOM diterbitkan nantinya, produk tersebut akan memiliki izin edar resmi sehingga dapat dipasarkan secara lebih luas, baik di dalam maupun luar daerah.

Dalam jangka panjang, pihaknya juga menargetkan pembangunan industri pengalengan ikan yang lebih modern melalui kerja sama dengan investor atau pihak ketiga.

“Agar potensi perikanan Berau yang melimpah mampu memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi daerah,” ujarnya. Pengembangan industri pengalengan tidak hanya bergantung pada fasilitas produksi, tetapi juga harus didukung ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan

Berau memiliki kekayaan sumber daya perikanan dengan beragam jenis ikan. Namun, kondisi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri dibandingkan daerah lain yang didominasi satu jenis ikan.

“Kalau di daerah lain mungkin kontinuitas bahan bakunya didominasi satu jenis ikan. Sementara, di Berau jenis ikan sangat beragam. Ini menjadi tantangan dalam menjaga pasokan bahan baku untuk industri,” katanya. (aja/sam)

Berita Terkait