Mediatani. Id, Kaltim- Di usia yang telah menginjak 62 tahun, banyak orang memilih menikmati masa pensiun.
Namun tidak bagi Iriansyah. Petani asal RT 4 Kampung Gurimbang, Kecamatan Sambaliung, itu justru memulai babak baru dengan menanam komoditas yang belum pernah ia geluti sebelumnya, yakni kakao.
Di atas lahan seluas 1,2 hektare, ia menanam 1.000 bibit kakao bersertifikat.
Langkah tersebut bukan sekadar mencoba tanaman baru, melainkan upaya membangun sumber penghidupan yang lebih berkelanjutan bagi keluarganya.
Selama puluhan tahun menjadi petani, Iriansyah terbiasa menanam berbagai komoditas hortikultura, seperti jagung dan sayur-sayuran.
Meski hasilnya dapat dipanen lebih cepat, penghasilannya kerap bergantung pada musim dan fluktuasi harga pasar.
“Berbagai macam tanaman sudah dicoba, mulai dari jagung, sayur-sayuran, dan lainnya yang memang bukan tanaman jangka panjang. Lalu ada sosialisasi dari Berau Coal untuk menanam kakao. Saya jalankan karena di Kabupaten Berau memang sedang dikembangkan dan perusahaan juga mendukung program ini,” tuturnya.
Kesempatan itu datang melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Berau Coal pada pilar ekonomi.
Program tersebut mendorong pengembangan kakao sebagai komoditas unggulan sekaligus mendukung program Pemerintah Kabupaten Berau dalam memperkuat sektor perkebunan.
Namun, dukungan yang diterima Iriansyah tidak berhenti pada pemberian bibit.
Ia juga memperoleh berbagai sarana produksi pertanian seperti pupuk, kompos, dolomit, pestisida, herbisida, hingga tanaman penaung yang berfungsi menjaga pertumbuhan kakao tetap optimal.
Sebanyak 60 bibit petai, lima bibit kelapa, 10 bibit alpukat, serta bibit durian ditanam berdampingan dengan kakao.
Tanaman-tanaman tersebut diproyeksikan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga sambil menunggu kakao memasuki masa produksi.
Tak hanya itu, benih hortikultura seperti cabai, kangkung, tomat, dan jagung juga diberikan agar petani tetap memiliki penghasilan dari panen jangka pendek.
Bagi Iriansyah, hal yang paling membuatnya optimistis bukan hanya karena kakao memiliki nilai ekonomi yang baik, tetapi juga adanya kepastian pasar.
“Kalau kakao ini saya tidak bingung lagi nanti hasilnya mau dijual ke mana. Pasarnya sudah jelas, jadi lebih yakin untuk menanam,” katanya.
Melalui program yang difasilitasi PT Berau Coal, hasil panen kakao petani nantinya akan diserap sehingga memberikan kepastian pemasaran.
Kondisi tersebut menjadi nilai tambah yang jarang ia rasakan saat membudidayakan komoditas lain.
Di balik perkembangan kebun kakaonya, Iriansyah mengaku hanya berpegang pada satu prinsip, yakni mau belajar.
Meski baru sekali mengikuti Sekolah Lapang Kakao, ia berusaha menerapkan seluruh arahan yang diberikan tim pendamping, mulai dari teknik penanaman, pemeliharaan hingga pemanfaatan tanaman penaung.
“Saya hanya mengikuti arahan dan petunjuk dari Berau Coal. Sebagai pemula, saya memang harus benar-benar memperhatikan setiap petunjuk supaya hasilnya nanti bagus dan tanaman bisa tumbuh sesuai harapan. Mulai dari cara menanam, dikasih bibit kakao, sampai tanaman penaung semuanya diberikan dan diarahkan oleh Berau Coal,” ujarnya.
Ia pun berharap pendampingan yang diberikan dapat terus berlanjut hingga masa panen tiba.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak kepada Berau Coal yang sudah memberikan dukungan ini untuk kami bertani dan berkebun. Harapan saya semoga Berau Coal dapat terus mendampingi proses kami,” ungkapnya.
Kisah Iriansyah menunjukkan bahwa membangun pertanian tidak hanya soal menyediakan bibit, tetapi juga menghadirkan pendampingan, kepastian pasar, dan kemauan petani untuk terus belajar. (*/Adv)





