Garap Bisnis Ayam Petelur, BUMDes Cinta Amanah Sukan Tengah Berau Sukses Dongkrak Ekonomi Desa

Oleh
mediatani.id
Diposting
Kamis, 17 Sep 26
Bagikan

Mediatani. Id, Berau- Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cinta Amanah Kampung Sukan Tengah, berhasil menggerakkan ekonomi kampung lewat diversifikasi bisnis ayam petelur.

Diversifikasi ini merupakan bagian dari langkah konkret para pengurus BUMDes untuk memperkuat eksistensi bisnis di kampung.

BUMDes yang telah berdiri sejak 2018 lalu ini, mulanya menggerakkan perputaran kas dalam usaha jasa boga (katering), cuci pakaian alias laundry dan rental bis elf.

Seiring berjalannya waktu, usaha BUMDes dikembangkan. Dengan membuka unit perdagangan umum, saprodi, penyalur pupuk subsidi dan mitra bank atau Brilink.

Semua jenis usaha itu, saat ini yang masih terus berjalan dengan diisi oleh sumber daya manusia (SDM) dari kampung tersebut.

Kini BUMDes Cinta Amanah yang telah berstatus ‘maju’ tersebut, melebarkan kembali jenis usahanya untuk produksi ayam petelur.

Kepada awak media ini, Direktur Operasional BUMDes Cinta Amanah Kampung Sukan Tengah, Usnur, mengungkapkan bila bisnis ayam petelur baru berjalan sejak Maret 2026 lalu.

Ide bisnis itu lahir dari pengamatan dan pembacaan peluang bisnis yang cukup menjanjikan.

Sebab telur ayam menjadi komoditas yang dibutuhkan untuk dikonsumsi harian di tengah masyarakat.

“Ini sudah berangkat dari proses panjang, termasuk membahas dengan semua pengurus BUMDes, kami putuskan untuk membuka bisnis baru ini,” kata Usnur.

Ia mengungkapkan, bila saat ini BUMDes yang dia pimpin memiliki jejaring bisnis yang bisa diandalkan. Baik di skala lokal, maupun luar daerah.

Hal itu dibuktikan dengan suplai bibit 1.300 ayam petelur yang didatangkan langsung dari Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Bibit yang akhirnya mengisi satu blok tempat bertelurnya ayam dan memproduksi telur sebanyak 1.080 butir per hari.

“Sekarang ayam yang masih produktif sisa 1.220-an ekor,” ujarnya.

Dia membeberkan, per hari pengelola panen sebanyak 36 piring telur. Masing-masing piring tersebut berisi 30 butir. Dengan asumsi per hari, terdapat 1.080 butir telur.

Saat ini, semua ayam sedang dalam masa puncak produksi, sehingga jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya usia ayam.

Usnur menyampaikan, bila saat ini pihaknya telah mendapatkan beberapa mitra untuk distribusi telur tersebut.

Mulai di pasar tradisional lokal, penjualan mandiri, dan penjualan untuk kebutuhan warga kampung.

Ihwal harga, tentu bervariasi. Bila mengambil langsung dari kampung, maka per piring telur akan dijual dengan harga Rp51 ribu per piring.

“Kalau di kampung, kami siapkan setiap hari 10 piring untuk dijual,” terangnya.

Keberhasilan awal bisnis ayam petelur ini, diungkapkan Usnur, tak lepas dari komitmen pemerintah kampung untuk memberikan dukungan penuh atas visi bisnis BUMDes.

Sebab di awal, kebutuhan modal dipenuhi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung (APBK).

“Sinergi ini yang terus kami jaga untuk memajukan Kampung Sukan Tengah,” ujarnya.

Di akhir, dia mengungkapkan bila ke depan pihaknya akan terus mengembangkan bisnis ayam petelur tersebut. Mengingat saat ini kebutuhan pasar masih sangat tinggi.

Apalagi dengan beroperasinya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membutuhkan suplai telur ayam dalam jumlah besar.

“Ini akan terus kami kembangkan, semoga membawa Sukan Tengah semakin maju ke depan,” harapnya.

Berita Terkait