Mediatani. Id, Kaltim- Produktivitas padi di Desa Sidomulyo Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar) melalui penerapan sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) atau pertanian berkelanjutan, berhasil meningkatkan panen hingga 44,8 persen, dari 4,4 ton menjadi 6,95 ton.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menerangkan, penerapan sistem pertanian modern ini menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas lahan pertanian.
“Dengan metode LEISA ini, kita menerapkan sistem bagaimana kita mengurangi pupuk kimia, namun bibit padi kita bisa bertahan lama,” kata Seno, saat melakukan panen bersama, Kamis 10 September 2026.
Program padi LEISA ini merupakan hasil dari sinergi Bank Indonesia (BI), Pemerintah Provinsi Kaltim, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, serta kelompok tani untuk meningkatkan hasil panen petani setempat.
Dijelaskan Seno, penerapan sistem tersebut saat ini mencakup sekitar 120 hektare lahan sawah. Setelah melihat hasil demplot, Pemprov berencana mereplikasi teknologi itu kepada kelompok tani lainnya yang ada di beberapa daerah.
Menurut dia, peningkatan produktivitas menjadi bagian dari strategi Kaltim mengejar swasembada beras. Saat ini tingkat swasembada beras Kaltim disebut telah mencapai sekitar 60 persen, naik dari 30 persen pada tahun sebelumnya.
“Kita harapkan akhir tahun sudah mencapai 100 persen,” ujar Seno.
Untuk mengejar target itu, Seno juga meminta dukungan pemerintah pusat dalam percepatan program cetak sawah di Kaltim. Di mana, luasan lahan yang diusulkan mencapai 12.000 hingga 13.000 hektare.
Seno menilai penambahan lahan sawah baku dan aktif akan memperkuat kemampuan Kaltim memenuhi kebutuhan beras dari hasil produksi sendiri.
“Dengan begitu ke depannya kita punya lahan sawah baku aktif di atas 4.000 hektare. Dengan begitu kita yakin swasembada beras akan cepat tercapai,” jelas Seno.
Sementara, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, Jajang Hermawan mengatakan metode LEISA ini memadukan teknologi budidaya, pembibitan, pemupukan, hingga pengendalian hama dengan teknologi modern seperti drone semprot (sprayer) untuk memperoleh proses kerja petani.
“Dengan metode modern ini kita mampu meningkat produksi dan menekan biaya serta menghemat waktu, yang biasanya penyemprotan pestisida membutuhkan waktu 6 jam hingga 8 jam kini hanya 10 menit beres,” kata Jajang.
Meskipun di tengah kemarau saat ini, dengan metode pertanian LEISA ini, produktivitas padi tidak terganggu dan justru malah meningkat. Dari yang sebelumnya, biasanya hasil panen petani hanya 4,8 ton, naik menjadi 6,95 ton
“Artinya naik 44,8 persen. Jadi meski di musim kemarau tidak terganggu. Karena kita ada pengaktifan mikroorganisme untuk pembibitan, pemupukan dan anti hama, meski air sekarang menjadi tantangan,” jelas Jajang.
Saat ini, penerapan LEISA telah dilakukan pada dua gapoktan. BI masih akan mencari kelompok tani lain yang siap mengadopsi sistem tersebut.
“Jadi ini tergantung kesiapan Gapoktan (gabungan kelompok tani) dan petaninya, karena LEISA menerapkan teknologi pertanian digital,” demikian Jajang Hermawan.





