2.400 Hektare Sawah Kekeringan, El Nino Hantam Pertanian Kaltim

Oleh
mediatani.id
Diposting
Selasa, 1 Sep 26
Bagikan

Mediatani. Id, Kaltim- Dampak El Nino mulai dirasakan sektor pertanian di Kalimantan Timur (Kaltim). Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim mencatat sekitar 2.400 hektare sawah terdampak kekeringan sepanjang Agustus 2026. 

Dari total luasan tersebut, sekitar 200 hektare masuk kategori kekeringan berat dan berpotensi mengalami gagal panen jika pasokan air tidak segera membaik.

Kepala DPTPH Kaltim Fahmi Himawan mengatakan, kondisi kering mulai dirasakan sejak awal Agustus dan diperkirakan masih berlangsung hingga September.

“Pada September diperkirakan masih mengalami kondisi yang sama. Oktober baru akan turun hujan, walaupun hujannya masih di bawah rata-rata. Diperkirakan November hujannya cukup deras atau di atas rata-rata,” ujar Fahmi, Senin (31/8).

Meski tekanan akibat kekeringan meningkat, aktivitas tanam padi di Kaltim masih terus berjalan. Berdasarkan data Kementerian Pertanian hingga akhir Agustus, realisasi tanam telah mencapai sekitar 80 persen dari target pemerintah pusat yang berada di kisaran 240 ribu hektare. 

Fahmi mengatakan, capaian tersebut didorong kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi vertikal, serta DPTPH di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota.

“Memang kita selalu mendorong agar tetap dilakukan upaya penanaman dan memastikan luas pertanaman kita tetap konsisten, bahkan ditingkatkan sampai betul-betul kita mengalami kondisi yang diprediksi kesulitan air,” katanya.

Hingga akhir Agustus, DPTPH belum menerima laporan tambahan mengenai tanaman yang mengalami puso atau gagal panen. Sebelumnya, pada Juli, sekitar 25 hektare lahan pertanian di Kabupaten Paser dilaporkan gagal panen. Pemerintah Kabupaten Paser disebut telah menyiapkan bantuan hibah bagi petani terdampak.

Sementara itu, sekitar 2.400 hektare sawah yang mengalami kekeringan tersebar di tujuh kabupaten dan kota di Kaltim. Tingkat dampaknya terbagi menjadi tiga kategori, yakni ringan, sedang, dan berat. 

Pada kategori ringan, tanaman masih berpeluang dipanen dengan potensi kehilangan hasil hingga 20 persen. Sementara kekeringan kategori sedang berpotensi menekan hasil panen sebesar 20–50 persen.

Risiko terbesar berada pada sekitar 200 hektare lahan yang masuk kategori kekeringan berat. Kehilangan hasil pada kondisi tersebut dapat mencapai 50–100 persen dan berpotensi berujung gagal panen apabila pasokan air tidak membaik.

“Kita khawatir memang yang kondisi berat ini bisa mengalami 50 sampai 100 persen gagal panen. Tapi kita berharap tidak terjadi,” pungkas Fahmi.

Dengan kondisi kering yang diperkirakan bertahan sepanjang September, upaya menjaga ketersediaan air menjadi penting untuk mencegah kekeringan meluas sekaligus mempertahankan produksi pangan Kaltim hingga curah hujan kembali meningkat. (KP)

Berita Terkait