Panen Raya Padi Eks PT Kitadin, Dari Tambang Menjadi Lumbung Ketahanan Pangan

Oleh
mediatani.id
Diposting
Minggu, 31 Agu 25
Bagikan

Mediatani.id, Kukar- Di atas hamparan sawah yang hijau menguning, sisa-sisa masa lalu masih terasa. Tanah yang dulu digali, dikupas, dan diambil batubaranya, kini kembali ditanami padi.
Di Blok Barat PT Kitadin, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Sabtu (30/8/2025).

“Hari ini kita menyaksikan sebuah momen penting, panen raya padi di lahan pascatambang, sebuah simbol bahwa tanah yang pernah dieksploitasi, dengan ilmu, komitmen, dan kolaborasi, dapat dihidupkan kembali untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, dalam sambutannya.

Kalimat Seno tak sekadar pidato seremonial. Panen raya ini, menurut dia, adalah buah konsistensi sebuah kerja panjang, reklamasi lahan, perbaikan tanah, dan upaya menata kembali kehidupan pasca tambang.

Sawah-sawah yang kini menghijau itu dulunya adalah lubang tambang, sisa eksploitasi batu bara.

PT Kitadin, anak usaha Bumi Resources, mengelola sekitar 1.600 hektare lahan pascatambang. Empat desa di sekelilingnya Embalut, Kerta Buana, Separi, dan Bangun Rejo ikut terlibat dalam transformasi ini.

”Mereka bukan hanya penonton, tapi pelaku utama dalam menghidupkan tanah bekas tambang dengan tanaman pangan.” katanya.

Model yang diterapkan di PT Kitadin bukan eksperimen pertama. Pada 6 September 2024, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga menyaksikan panen raya padi di Site Embalut masih dalam kawasan Kitadin.

Serangkaian panen ini memperkuat argumen bahwa pertanian di lahan eks tambang bukan ilusi.

“Informasi lapangan menunjukkan puluhan hektare sawah berhasil dipanen di kantong-kantong reklamasi tertentu. Ini capaian teknis yang tidak terjadi begitu saja. Ada desain, ameliorasi tanah, sistem air, dan pembinaan kelompok tani di dalamnya,” kata Seno.

Di tengah dorongan nasional menuju transisi energi dan pembangunan hijau, transformasi pasca tambang seperti ini menjadi relevan. Kalimantan Timur selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia.

Tapi di balik angka ekspor itu, lubang-lubang tambang seringkali ditinggalkan tanpa rehabilitasi yang bermakna.

“Panen ini bukan sekadar panen gabah. Ini panen dari sebuah tata kelola. Ilmu yang benar, kebijakan yang tepat, dan kemitraan yang seimbang,” kata Seno.

Ia menyebut praktik yang dijalankan di Kitadin sebagai “laboratorium hidup” transformasi ekonomi hijau di daerah.

Kalimantan Timur kini menata ulang narasi pembangunannya. Tidak lagi semata mengandalkan ekstraksi sumber daya alam, tetapi berinvestasi pada ketahanan pangan, desa, dan regenerasi petani.

Namun Seno tak menutup mata bahwa jalan ke sana masih panjang.

“Kita perlu kawal kualitas tanah secara konsisten, perbaiki sistem irigasi, cocokkan benih dengan agroklimat, dan pastikan petani punya akses pembiayaan serta offtaker,” katanya.

Ia juga menyebut pentingnya kepastian legal lahan yang digunakan, integrasi dengan pasar, dan pelatihan budidaya ramah lingkungan. Kolaborasi adalah syarat mutlak.

“Pemerintah daerah, perusahaan, perguruan tinggi, penyuluh, perbankan, dan kelompok tani harus berada dalam satu orkestra kerja,” pungkasnya.

Berita Terkait