Bagaimana Ketekunan dan Kreatifitas Membawa Dhea Rasa UMKM Berau Hingga ke Mancanegara

Oleh
mediatani.id
Diposting
Rabu, 10 Sep 25
Bagikan

Mediatani.id, Berau- Di balik geliat pertumbuhan UMKM di berbagai daerah, tersimpan kisah inspiratif dari Tanjung Redeb, Kabupaten Berau.

Sosok Darmawati, pemilik produk Dhea Rasa adalah contoh nyata bagaimana ketekunan, kreativitas, dan semangat pantang menyerah mampu melahirkan produk unggulan lokal yang kini dikenal luas bahkan hingga ke luar negeri.

Produk-produk dari merek Dhea Rasa khususnya Kalampuri Crispy dan Terasi Udang asli Berau, menjadi simbol keberhasilan UMKM di tengah tantangan zaman. Berawal dari modal hanya Rp300.000 pada tahun 2011, ia memulai usahanya secara otodidak. 

“Saya tidak mewarisi usaha ini, semua saya rintis sendiri dari nol,” ujar Darma.

Awalnya, ia memproduksi camilan rumahan seperti kacang dan stik bawang. Namun, pandemi COVID-19 justru menjadi momen penting yang melahirkan inovasi produk unggulannya, yaitu Kalampuri Crispy. 

“Ada hikmah pada saat lockdown, saya banyak uji coba di dapur dan akhirnya terciptalah kalampuri crispy,” ucapnya.

Produk Kalampuri yang berbahan dasar udang rebon, dibuat secara mandiri. Mulai dari penyortiran, penggorengan, hingga pembumbuan dengan racikan khas yang menjadi rahasia dapurnya. Cita rasa yang autentik dan tekstur yang renyah membuat camilan ini menjadi best seller, bahkan dibawa sebagai oleh-oleh hingga ke Tanah Suci Mekah, Turki, Inggris, dan Malaysia. 

Tak hanya itu, produk ini pun diminati oleh pasar lokal seperti Samarinda, Balikpapan, hingga Sulawesi.

Tak kalah menarik adalah terasi udangnya. Terasi Dea Rasa berbeda dari terasi pada umumnya, karena sudah melalui proses sangrai dan siap saji. 

“Tinggal campur cabai dan tomat, langsung jadi sambal, praktis,” ujarnya, sambil menunjukkan kemasan modernnya yang telah bersertifikat halal dan dilengkapi nilai gizi. 

Hal ini menunjukkan keseriusannya dalam menjaga kualitas, Kunci keberhasilan usaha Dea Rasa tidak hanya terletak pada kualitas produk, tetapi juga strategi pemasaran yang adaptif terhadap era digital. 

Saat ini, produk Dea Rasa bisa ditemukan di platform seperti Shopee Food dan Instagram. Namun, semua proses produksi, termasuk pengemasan, masih dilakukan secara manual oleh empat orang karyawannya.

Meski telah meraih banyak pencapaian, Darma tak berhenti berinovasi. Ia berencana menambahkan varian baru dengan tingkat kepedasan berlevel, menyesuaikan permintaan pasar. 

“Ada yang bilang, kurang pedas nih, ya sudah nanti saya buat level 1 sampai 3,” ujarnya.

Langkah ini adalah bagian dari strategi untuk tetap relevan dan memenuhi selera konsumen yang beragam. Tentu, perjalanan ini tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami kegagalan dan bahkan ada pihak yang meniru produknya. 

Namun, semua itu tidak menyurutkan semangatnya. “Biarpun ada yang meniru, rezeki enggak akan tertukar. Beda tangan, beda rasa,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Kini, Dea Rasa bukan hanya menjadi produk, tapi juga simbol perjuangan dan kemandirian perempuan lokal. Ia berpesan untuk para pelaku UMKM, terutama ibu rumah tangga, agar tidak takut dikritik untuk kebaikan dan kemajuan produk.

Ia membuktikan bahwa dengan niat dan kerja keras, modal kecil bisa berkembang menjadi aset besar, bahkan menjadi sumber penghidupan bagi keluarga.

Berita Terkait