Sektor Pertanian Jadi Penyerap Tenaga Kerja Terbesar di Kaltim

Oleh
mediatani.id
Diposting
Minggu, 8 Nov 26
Bagikan

Mediatani. Id, Kaltim- Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di Kalimantan Kaltim selama periode Agustus 2026.

Sektor tersebut menyerap 18,94 persen dari total penduduk bekerja.

Mengungguli perdagangan besar dan eceran yang berada di posisi kedua dengan kontribusi 18,08 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim pada laporan triwulan III, jumlah penduduk bekerja pada Agustus 2026 mencapai 2.017,87 ribu orang atau sekitar 2,02 juta orang.

Sementara itu, aktivitas penyediaan akomodasi dan makan minum menempati posisi ketiga dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja sebesar 9,43 persen.

Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai mengatakan, sektor pertanian masih menjadi lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penyerapan tenaga kerja di Benua Etam.

Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya peran sektor berbasis sumber daya alam dalam menyediakan pekerjaan bagi masyarakat.

“Kontribusi tenaga kerja terbesar adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 18,94 persen,” ujar Mas’ud Rifai melalui keterangan resminya, Minggu (8/11/2026).

Meski pertanian mendominasi jumlah pekerja, perkembangan penyerapan tenaga kerja pada setiap lapangan usaha menunjukkan pergerakan berbeda.

Sektor akomodasi dan makan minum mencatat penambahan pekerja terbesar dibandingkan periode Agustus 2025.

BPS mencatat, penyerapan tenaga kerja pada sektor tersebut meningkat 1,10 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini menunjukkan aktivitas usaha yang berkaitan dengan perhotelan, restoran, rumah makan, dan penyediaan konsumsi turut membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat.

“Sebaliknya, sektor perdagangan besar dan eceran mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja terbesar. Jumlah pekerja pada lapangan usaha tersebut turun 0,96 persen dibandingkan Agustus 2025,” jelasnya.

Dari sisi status pekerjaan, penduduk bekerja di Kaltim masih didominasi buruh, karyawan, dan pegawai. Kelompok tersebut mencakup 50,19 persen dari total penduduk bekerja pada Agustus 2026.

Sementara itu, penduduk yang berstatus berusaha sendiri mencapai 21,68 persen. Pekerja keluarga atau tidak dibayar berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 10,83 persen.

Adapun penduduk yang berusaha dibantu buruh tidak tetap tercatat sebesar 8,75 persen. 

Kemudian, pekerja bebas di sektor nonpertanian mencapai 3,58 persen, penduduk yang berusaha dibantu buruh tetap sebesar 2,98 persen, dan pekerja bebas di sektor pertanian sebesar 1,99 persen.

Komposisi tersebut memperlihatkan beragam pola masyarakat dalam memperoleh penghasilan. 

Sebagian besar bekerja sebagai karyawan atau pegawai, sementara kelompok lainnya menjalankan usaha sendiri, bekerja secara mandiri, maupun membantu kegiatan ekonomi keluarga.

BPS juga mencatat perubahan komposisi pekerja berdasarkan kategori formal dan informal selama periode Agustus 2024 hingga Agustus 2026. 

Pada Agustus 2026, proporsi pekerja informal mencapai 46,83 persen, sedangkan pekerja formal sebesar 53,17 persen.
Meski pekerja formal masih memiliki proporsi lebih besar, kelompok informal mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. 

Kenaikan tersebut terutama didorong bertambahnya penduduk yang berusaha sendiri serta pekerja keluarga yang tidak menerima upah.

Perkembangan ini menunjukkan sektor informal tetap memiliki peran penting dalam menyerap tenaga kerja di Kaltim.

Aktivitas usaha mandiri dan kegiatan ekonomi keluarga menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk memperoleh pendapatan di tengah perubahan kondisi pasar kerja.

Di sisi lain, struktur perekonomian Kaltim pada Triwulan III-2026 masih didominasi sektor pertambangan dan penggalian. 

Lapangan usaha tersebut memberikan kontribusi sebesar 35,08 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim.

Industri pengolahan berada di posisi kedua dengan kontribusi 20,16 persen, disusul konstruksi sebesar 11,31 persen.
Ketiga lapangan usaha tersebut menjadi penopang utama struktur perekonomian daerah.

Namun, sektor pertambangan dan penggalian yang memiliki kontribusi terbesar justru mengalami kontraksi sebesar 0,41 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y).

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan perkembangan antara sektor yang mendominasi struktur ekonomi dan lapangan usaha dengan pertumbuhan paling tinggi.

Besarnya kontribusi pertambangan terhadap PDRB belum diikuti pertumbuhan positif pada Triwulan III-2026.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tertinggi berdasarkan lapangan usaha dicatat sektor pengadaan listrik dan gas sebesar 18,15 persen secara tahunan.

Peningkatan tersebut didorong oleh bertambahnya produksi dan distribusi listrik.

“Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menyusul dengan pertumbuhan 12,69 persen. Kemudian, jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh sebesar 12,13 persen,” paparnya.

Berita Terkait