Mediatani. Id, Mahulu- Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur sedang memetakan beragam komoditas maupun sumber daya yang potensial dilakukan hilirisasi, agar memiliki nilai jual lebih tinggi, membuka lapangan kerja baru, dan memperluas peluang usaha bagi masyarakat.
“Pembangunan ekonomi daerah membutuhkan strategi tepat agar potensi yang dimiliki dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar
Bupati Mahulu Angela Idang Belawan di Mahulu, Selasa.Tekad hilirisasi ini pun telah dilakukan kajian, bahkan laporan akhir hasil kajian hilirisasi dan potensi investasi telah dilakukan presentasi oleh tim pengkaji dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Kamis (29/10) pekan lalu.
Sejumlah komoditas yang berpotensi dilakukan hilirisasi di Mahulu antara lain kelapa sawit. Komoditas yang selama ini hanya dijual dalam bentuk tandan buah segar (TBS), bisa dikembangkan menjadi minyak sawit mentah, minyak goreng, biodiesel, hingga produk turunan lainnya.
Bahkan limbah dari perkebunan ini dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik dan sumber energi biomassa. Perkembangan ini didukung keberadaan izin usaha perkebunan sawit dari 10 perusahaan di areal sekitar 106.153 hektare, serta kebun sawit rakyat yang terus tumbuh.
Komoditas kakao juga menjadi unggulan yang potensial. Luas perkebunan rakyat kakao mencapai 2.356 hektare pada 2025 yang dikelola oleh 806 rumah tangga atau petani. Biji kakao ini dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti kakao fermentasi, bubuk kakao, lemak kakao, cokelat batangan, hingga produk kecantikan berbahan dasar lemak kakao.
Pemkab Mahulu bahkan telah menjajaki kerja sama dengan Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Industri dan Penyegar sejak Agustus 2026 untuk memperkuat sisi teknologi pengolahan bijinya.
Selain pertanian, kekayaan hutan yang luas di Mahulu juga berpotensi dikembangkan melalui hasil hutan bukan kayu. Seperti madu hutan, rotan, damar, gaharu, tanaman obat, dan bambu memiliki peluang besar diolah menjadi produk kemasan, furnitur, kerajinan, minyak atsiri, hingga produk herbal.
Hilirisasi sektor ini dinilai strategis karena sekaligus dapat memperkuat ekonomi masyarakat adat dan kelompok perhutanan sosial, tanpa harus menebang pohon.Sementara itu, potensi pariwisata dan budaya juga tidak luput dari pengembangan nilai tambah, mulai dari paket wisata budaya Hudoq Pekayang, wisata susur Sungai Mahakam, hingga kerajinan manik-manik, dan kain khas Dayak.
“Hilirisasi ini akan disusun dalam peta jalan 2026–2030 agar lebih terarah. Tidak semua potensi harus dikembangkan bersamaan, melainkan dipilih secara cermat berdasarkan kesiapan, peluang pasar, dan kemampuan daerah,” kata Angela.





