Dampak Kemarau Panjang, Produktivitas Pertanian Menurun, Pemerintah Salurkan Bantuan

Oleh
mediatani.id
Diposting
Jumat, 11 Sep 26
Bagikan

Mediatani. Id, Kaltim- Pemkab Berau mulai menyalurkan bantuan bagi petani yang terdampak musim kemarau panjang.

Musim kemarau panjang diprediksi terjadi hingga akhir 2026 bahkan hingga awal 2027.

Kondisi kemarau panjang itu memicu karhutla di Berau yang pada gilirannya menganggu aktivitas warga.

Bahkan sejumlah kebun milik warga juga menjadi amukan api karhutla. Salah satu warga yang terdampak karhutla adalah warga Kampung Merasa, Kelay, Berau.

Karhutla di Kampung Merasa berdampak pada kebun kakao yang dimiliki oleh warga. Wabup Berau Gamalis menyalurkan bantuan kepada warga Kampung Merasa yang terdampak karhutla.

Bantuan yang diberikan sebesar Rp500 juta diberikan kepada 50 kepala keluarga (KK). Diketahui dana bantuan ini berasal dari selebritas Raffi Ahmad yang sempat menyambangi Berau pada akhir Agustus lalu.

“Atas nama Pemkab Berau, kami mengucapkan terima kasih. Bantuan ini sedikit mengurangi beban masyarakat yang terdampak karhutla,” ujar Gamalis.

Ia menambahkan dampak karhutla bukan hanya pada tebalnya kabut asap dan kerusakan lingkungan, tetapi juga hingga tahap mengganggu kondisi ekonomi masyarakat.

Sejumlah warga mengalami kerugian terhadap aset produktif yang selama ini menjadi sumber penghasilan, seperti tanaman kakao dan kelapa sawit.

Ia berharap dengan bantuan tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan keluarga hingga mendukung pemulihan aktivitas ekonomi warga.

“Mudah-mudahan bantuan ini dapat membantu masyarakat, khususnya di Kampung Merasa,” katanya.

Selain warga Kampung Merasa, dampak kekeringan juga dialami oleh sejumlah petani di Berau.

Beberapa petani harus gagal panen akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

Plt Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu, mengatakan sebagian besar masih ada pertanian lokal yang memang terancam, seperti halnya pertanian Berau banyak yang mengalami puso.

“Petani lokal kita memang ada terancam kayak kemarin yang pertanian panen kita juga banyak yang puso,” ungkapnya kepada Berauterkini.

Sejauh ini, wilayah yang melaporkan adanya kegagalan panen adalah Kampung Semurut Kecamatan Tabalar.

Dinas Pangan menurunkan bantuan bagi wilayah mana pun yang mengalami bencana dan risiko mengalami gagal panen.

“Semurut ini gagal panen, puso juga ya, terus ini Dinas Pangan akan menurunkan bantuan itu karena ada bantuan beras untuk selain bencana ada risiko-risiko kegagalan panen, ”jelasnya

Ia menjelaskan adanya perbedaan antara orang yang terkena bencana dengan petani yang memang gagal panen.

Seseorang yang terkena bencana, kemungkinan pengaruhnya hanya pada dirinya sendiri sebagai warga biasa dengan konsumsi pribadi.

Namun jika petani yang gagal panen, selain pada konsumsinya, pengaruhnya juga sampai pada proses jual beli sebagai mata pencaharian.

“Itu memang sudah ada perlindungan program di sini untuk bantuan pangan,” katanya.

Bantuan pangan tersebut merupakan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD). Sekitar 80-an Kepala Keluarga terdampak dan akan diberikan bantuan berupa 1 sak beras dengan berat 5 dan 10 kg.

Bantuan lebih besar akan diberikan pada petani gagal panen dibanding warga yang mengalami bencana.

“Mungkin dalam waktu dekat, on proses karena harus SK Bupati ya dan verifikasi lapangan,” ujarnya.

Berita Terkait