Mediatani. Id, Kaltim- Di balik botol-botol jamu herbal bermerek Zenvin yang kini dikenal hingga luar negeri, tersimpan perjalanan panjang seorang perempuan Berau yang memulai usahanya dari dapur rumah.
Berbekal ketekunan dan kemauan belajar, Rusmiati berhasil mengubah racikan herbal tradisional menjadi produk yang mampu mewakili Indonesia di ajang internasional.
Perjalanan usaha Zenvin tidak selalu berjalan mulus. Saat pertama kali menjajakan produknya di Pasar Sanggam Adji Dilayas pada 2016, Rusmiati harus menghadapi minimnya minat masyarakat terhadap jamu tradisional.
Berbagai cara dilakukan agar produknya lebih dikenal, mulai dari memperbaiki kemasan, membuat label produk, hingga berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan terkait legalitas dan pengembangan usaha.
“Awalnya banyak yang belum tertarik. Dari situ saya mulai belajar soal branding, kemasan, dan bagaimana membuat produk lebih dipercaya masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya mengandalkan pengalaman pribadi, Rusmiati juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan bergabung dalam komunitas bisnis untuk meningkatkan kapasitas usahanya.
Langkah tersebut membuahkan hasil ketika produk jamunya berhasil memperoleh berbagai perizinan, termasuk PIRT dan perlindungan merek melalui HAKI.
Pada 17 Juli 2017, ia resmi mendirikan merek Zenvin, nama yang diambil dari gabungan nama kedua anaknya, Alzhen dan Alvin.
Perkembangan usaha itu terus menunjukkan tren positif. Saat ini, dalam kurun waktu tiga hari, Zenvin mampu memproduksi antara 500-1.000 botol jamu dengan berbagai varian.
Produk tersebut dipasarkan dengan harga mulai Rp15.000 hingga Rp100.000 per botol.
Rusmiati mengakui, media sosial turut berperan besar dalam memperluas jangkauan pasar produknya.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat jamu, persaingan harga, hingga biaya distribusi yang cukup tinggi.
Namun, tantangan tersebut tidak menghentikan langkahnya untuk terus berkembang.
Puncaknya, Zenvin dipercaya menjadi perwakilan Indonesia dalam kegiatan Hari Harta Intelek Negara (HHIN) 2024 di Malaysia.
Pencapaian itu menjadi bukti produk herbal lokal dari Berau mampu bersaing dan mendapat perhatian di tingkat internasional.
“Yang terpenting adalah terus belajar dan tidak mudah menyerah. Saya ingin jamu tradisional bisa diterima lebih luas oleh masyarakat,” tuturnya.
Dengan konsistensi menjaga kualitas dan terus berinovasi, Zenvin kini tidak hanya menjadi produk herbal khas Berau, tetapi juga simbol keberhasilan UMKM lokal menembus panggung global. (*/Adv)





