Mediatani.id, Berau- Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau merespons dorongan dan evaluasi Bupati Berau Sri Juniarsih terkait pengembangan komoditas kelapa dalam, khususnya di wilayah pesisir.
Arahan tersebut disampaikan Bupati, saat rapat evaluasi awal tahun yang menekankan perlunya regenerasi tanaman kelapa agar lebih produktif dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.
Dalam rapat tersebut, Bupati menyoroti kondisi kelapa dalam di Kecamatan Bidukbiduk yang sebagian besar sudah tua dan tinggi, sehingga sulit dimanfaatkan.
Karena itu, Dia meminta Disbun mulai mengarahkan pengembangan kelapa genjah yang dinilai lebih cepat panen dan mudah dikelola masyarakat.
“Kelapa genjah bisa dua tahun panen dan tidak tinggi, sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Menurut Bupati, selama ini kelapa dalam memang menjadi ikon visual kawasan pesisir, namun dari sisi ekonomi belum optimal.
Ia menilai potensi kelapa, termasuk kelapa dalam, sangat besar untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan daerah, bahkan memiliki peluang menembus pasar internasional jika dikelola secara maksimal.
“Potensi pasar kelapa ini besar kalau produksinya konsisten dan berkualitas, peluang ekspor sangat terbuka,” terangnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, menyampaikan bahwa kelapa dalam memang masuk dalam sektor unggulan perkebunan daerah bersama komoditas kakao.
Ia memastikan arahan Bupati akan menjadi perhatian serius pihaknya, terutama terkait regenerasi tanaman kelapa yang sudah tidak produktif.
“Kelapa dalam ini memang jadi pekerjaan rumah, karena diminta ada regenerasi tanaman oleh Ibu Bupati,” ujarnya Rahu (14/1).
Bahkan sebut Lita, sebelum adanya instruksi Bupati itu, Disbun Berau juga selama ini secara rutin menyalurkan bantuan bibit kelapa dalam kepada petani.
Namun, keterbatasan anggaran membuat jumlah bantuan belum bisa menjangkau seluruh kebutuhan.
Setiap tahun, Disbun rata-rata menyalurkan sekitar 4.000 bibit kelapa dalam. “Anggaran kita terbatas, jadi bantuan bibit belum bisa terlalu banyak, tapi tetap kita upayakan setiap tahun,” jelasnya.
Untuk tahun ini, Disbun Berau juga telah menyiapkan sekitar 3.000 bibit kelapa dalam yang akan disalurkan ke beberapa kampung.
Bantuan tersebut diharapkan bisa mendorong proses regenerasi tanaman kelapa tinggi yang sudah tua, sekaligus meningkatkan produktivitas kebun masyarakat.
Lita menekankan, keberlanjutan budidaya sangat bergantung pada komitmen petani dalam merawat bibit yang telah diberikan. “Tinggal bagaimana petani bisa melanjutkan budidayanya secara berkelanjutan,” tukasnya.
Khusus di Bidukbiduk, Disbun sebelumnya juga pernah menyalurkan bantuan kelapa untuk mendukung kepentingan wisata, seperti kawasan Kelapa Pandan Bidukbiduk.
Selain itu di Kampung Giring-Giring, pengembangan kelapa dalam juga telah dilakukan secara mandiri melalui dukungan Alokasi Dana Kampung (ADK).
Upaya tersebut menjadi contoh bahwa pengembangan kelapa bisa dilakukan melalui berbagai skema.
Ke depan, Disbun Berau menegaskan komitmennya untuk tidak hanya berhenti pada penyaluran bibit.
Pendampingan pascapenyaluran menjadi fokus agar tanaman benar-benar bisa tumbuh dan berproduksi.
“Kami lakukan pembinaan dari waktu ke waktu, terutama soal teknik pemeliharaan yang belum dipahami petani,” pungkas Lita.
Dengan sinergi antara arahan pemerintah daerah dan pendampingan teknis di lapangan, pengembangan kelapa dalam di Berau diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat, sekaligus memperkuat posisi kelapa sebagai komoditas unggulan daerah.





