Kebutuhan Pangan Naik, Program MBG Buka Potensi Agrobisnis

Oleh
mediatani.id
Diposting
Minggu, 14 Sep 25
Bagikan

Mediatani.id, Berau- Program makan bergizi gratis (MBG), yang mulai berjalan di Berau, dinilai membuka peluang besar bagi petani dan koperasi lokal untuk memasok bahan pangan segar.

Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan, menyampaikan, kebutuhan pangan akan melonjak ketika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), berjalan penuh.

Kondisi ini, menurutnya, bisa dimanfaatkan oleh petani lokal agar hasil panennya terserap pasar, sekaligus membuka ruang bagi Koperasi Merah Putih untuk ikut berperan.

“Kalau semua dapur jalan, otomatis akan butuh banyak bahan pangan segar. Nah, makanya ini sebenarnya satu potensi besar bagi petani untuk memanfaatkan,” jelasnya.

Apabila program ini diterapkan secara menyeluruh, setidaknya ada 80 ribu pelajar di Berau yang harus dilayani setiap hari. Jumlah itu tentu membutuhkan suplai pangan dalam skala besar.

“Kalau SPPG sudah jalan semua, dalam sehari kita perlu 80 ribu pelajar yang diberi makan gratis,” katanya.

Saat ini, SPPG baru berjalan sebatas pilot project yang berada di Jalan Karang Mulyo. Program percontohan itu melayani empat sekolah di Kecamatan Tanjung Redeb.

Setelah sistem dapur umum ini matang, rencananya SPPG akan diperluas ke sekolah-sekolah di seluruh kecamatan.

Ia menyebut beberapa komoditas lokal yang berpotensi besar untuk memenuhi kebutuhan SPPG, di antaranya pisang, jeruk, dan semangka.

Tiga jenis buah ini dinilai cocok ditanam di Berau dan bisa menjadi bahan rutin dalam menu harian.

“Paling tidak buah yang berpotensi bisa ditanam di Berau itu mungkin pisang, jeruk, atau semangka. Otomatis itu yang akan menjadi buah-buah yang akan selalu digunakan. Itu menjadi peluang agrobisnis untuk petani,” terangnya.

Selain buah, kebutuhan telur dipastikan meningkat tajam. Hampir semua menu, kata dia, menggunakan telur, baik sebagai lauk maupun campuran masakan.

“Sekarang kan makanan-makanan itu pasti menggunakan, hampir semua makanan menggunakan telur. Seperti capcay itu pakai telur. Apalagi nanti kalau misalnya kebetulan pas lauknya itu telur juga. Jadi kebutuhan semakin banyak,” ucapnya.

Selain sayur-sayuran menu lain yang kemungkinan besar masuk daftar adalah tahu, tempe, serta ayam. Sedangkan ikan dinilai kurang tepat untuk anak-anak, terutama ikan berduri yang berisiko.

Untuk memastikan mutu pangan, pihaknya memiliki tim Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD).

Melalui tim tersebut, setiap pasokan pangan segar akan ditelusuri asalnya, baik dari lokal maupun luar daerah. “Kalaupun itu ada yang dari luar daerah, kami juga akan tetap cek stok pangan mereka,” katanya.

Dengan adanya SPPG, kebutuhan pangan di Berau dipastikan melonjak. Maka dirinya berharap peluang ini bisa ditangkap petani dan Koperasi Merah Putih agar manfaat program tidak hanya dirasakan pelajar, tetapi juga mendukung ketahanan pangan daerah.

Di sisi lain, Bupati Berau Sri Juniarsih terus mendorong setiap kepala kampung dan lurah untuk menggali kekuatan ekonomi yang ada di wilayahnya, mulai dari sektor pertanian, UMKM, hingga pariwisata.

Sri menekankan, setiap kepala kampung maupun lurah harus mulai memiliki bayangan mengenai jenis usaha yang akan dikelola oleh koperasi masing-masing.

Namun, ia mengingatkan agar jenis usaha yang dikembangkan tidak tumpang tindih dengan unit usaha Badan Usaha Milik Kampung (BUMK), mengingat keterbatasan sumber daya manusia dan jumlah penduduk di beberapa kampung.

Yang terpenting adalah mengenali kebutuhan masyarakat dan mengelola potensi lokal secara maksimal.

“Paling tidak sudah ada rencana bisnis ke depan. Yang jelas, jangan sama dengan BUMK. Kita punya sumber daya alam yang melimpah, tinggal bagaimana sumber daya manusianya mampu memaksimalkan potensi tersebut,” tambahnya.

Berita Terkait