KLM Cahaya Fitrah Tenggelam, Disbun Berau Pastikan Ini Tidak Terlalu Berdampak

Oleh
mediatani.id
Diposting
Sabtu, 30 Agu 25
Bagikan

Mediatani.id, Berau- nsiden tenggelamnya kapal pengangkut pupuk di perairan Berau, menuai perhatian berbagai pihak.

Termasuk Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau. Kepala Disbun Berau, Lita Handini. Menurutnya, secara sektor perkebunan, dampak dari peristiwa tersebut tidak terlalu besar. Pasalnya, di Kabupaten Berau pupuk bersubsidi hanya diperuntukkan bagi komoditas kakao atau cokelat.

“Untuk sektor perkebunan, hanya komoditas kakao saja yang diperkenankan menggunakan pupuk bersubsidi ini,” jelasnya, Rabu (27/8).

Ia menambahkan, kemungkinan yang lebih merasakan dampaknya adalah sektor tanaman pangan, mengingat kebutuhan pupuk di komoditas itu lebih tinggi dan rutin.

Sementara itu, untuk tanaman kakao sendiri, ketergantungan terhadap pupuk tidak begitu tinggi. Sehingga potensi gangguan dari sisi produksi dipastikan relatif kecil.

“Pada kakao, pemupukan hanya dilakukan sebanyak-banyaknya dua kali dalam setahun,” katanya.

Meski begitu, Disbun tetap akan mencermati perkembangan distribusi pupuk. Lita menyebut, apabila ada hambatan distribusi yang berkepanjangan, tentu akan ada langkah koordinasi dengan instansi terkait. “Kami akan ikuti perkembangannya,” tuturnya.

Sebelumnya, Kapal Layar Motor (KLM) Cahaya Fitrah dengan bobot 282 Gross Ton (GT) dilaporkan tenggelam di wilayah perairan Sukan, Kabupaten Berau, pada Senin (25/8) siang.

Kapal tersebut mengangkut sekitar 650 ton pupuk bersubsidi jenis NPK dan Urea. Muatan itu rencananya akan didistribusikan ke Pelabuhan Teratai, sebelum masuk ke gudang penampungan khusus di wilayah Berau.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas II Tanjung Redeb, Lister Martupa Gurning membenarkan insiden tersebut.  “Kebetulan kami baru melaksanakan BAP,” ujarnya belum lama ini.

Menurut penjelasannya, kapal berangkat dari Kota Bontang pada 23 Agustus pukul 23.19 Wita.

Setelah dua hari berlayar, kapal sampai di perairan Sukan, dan pada 25 Agustus siang berpapasan dengan sebuah kapal tongkang bermuatan batu bara.

“Keterangannya sudah berkomunikasi dengan baik, untuk passing jumpa di lambung kiri. Tapi mungkin nakhodanya ambil terlalu kanan, sehingga masuk ke area dangkal,” terang Lister.

Awalnya, kapal hanya mengalami kandas sekitar pukul 14.00 Wita. Namun saat air surut, lambung kapal tidak mampu menahan tekanan, hingga muncul kebocoran.

“Awalnya masih bisa diatasi, tapi makin lama makin banyak air masuk, lalu tenggelam,” tambahnya. 

Berita Terkait