Tidak Hanya Bekudung Betiung, Maratua Jazz Juga Belum Tembus KEN, Ternyata Ini Kendalanya!

Oleh
mediatani.id
Diposting
Jumat, 20 Mar 26
Bagikan

Mediatani.id, Berau- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau kembali mengusulkan salah satu agenda budaya daerah agar masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) yang disusun Kementerian Pariwisata.

Tahun ini, event Bekudung Betiung dari Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung, diajukan menjadi bagian dari kalender pariwisata nasional tersebut. Namun usulan itu belum berhasil lolos pada tahap kurasi.

Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran dan Kerja Sama Disbudpar Berau, Fitriansyah, mengatakan, pihaknya memang rutin mengajukan agenda daerah untuk dapat masuk dalam KEN.

Pada tahun ini, Disbudpar hanya diminta mengusulkan satu event oleh kementerian.

“Tahun lalu kita masukkan dua event. Tahun ini kita hanya diminta kementerian satu event saja. Kita mengajukan Bekudung Betiung, tapi sampai tahap kurasi sudah gugur,” ujarnya, belum lama ini.

Menurutnya, salah satu kendala utama yang menjadi catatan dalam proses penilaian adalah perubahan jadwal pelaksanaan event.

Padahal, salah satu syarat yang menjadi perhatian dalam kurasi KEN adalah konsistensi waktu penyelenggaraan.

“Karena waktunya berubah-ubah. Harusnya dalam pelaksanaan itu tidak boleh berubah tanggal dan bulannya dalam waktu tiga tahun,” jelasnya.

Selain persoalan jadwal, ia juga mengakui kemungkinan masih ada kekurangan dalam data pendukung yang disampaikan saat proses pengajuan. Termasuk materi konten dan video yang menjadi bagian penting dalam penilaian.

Meski begitu, Disbudpar Berau menilai masih banyak kampung di daerah ini yang memiliki potensi event budaya yang menarik untuk dikembangkan menjadi agenda pariwisata yang lebih besar.

Hanya saja, sejumlah persyaratan penyelenggaraan masih perlu dipenuhi, termasuk durasi kegiatan.

Dijelaskan, dalam penilaian KEN, pelaksanaan event idealnya berlangsung minimal tiga hari agar dapat memberikan dampak pariwisata yang lebih luas.

“Banyak kampung yang memiliki event yang potensial juga. Tapi pelaksanaannya minimal harus tiga hari. Kalau seperti di Kutim itu bahkan ada yang sampai sebulan, yakni event Budaya Pipping,” katanya.

Ia menilai, jika dilihat dari sisi atraksi budaya, Bekudung Betiung sebenarnya tidak kalah menarik dibandingkan event lain yang telah lebih dulu dikenal di tingkat nasional.

Bekudung Betiung merupakan festival adat tahunan Suku Dayak Gaai yang digelar di Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung.

Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen, sekaligus menjadi prosesi pendewasaan bagi anak laki-laki dalam komunitas tersebut.

Rangkaian kegiatan dalam festival adat ini menampilkan berbagai prosesi budaya, mulai dari ritual adat, menabur benih, hingga upacara sakral yang berlangsung selama tujuh hari.

Seluruh tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga nilai tradisi dan identitas budaya masyarakat Dayak Gaai.

Pemerintah Kabupaten Berau selama ini juga memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan festival tersebut sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya lokal.

Dukungan itu sekaligus diharapkan dapat mendorong Bekudung Betiung berkembang, menjadi salah satu agenda wisata budaya unggulan daerah di masa mendatang.

Sebelumnya, Disbudpar juga pernah mendampingi pengajuan Maratua Jazz and Dive Fiesta (MJDF) agar dapat masuk dalam KEN. Namun hingga kini event tersebut juga belum berhasil lolos seleksi nasional.

“Tahun lalu kami juga mengajukan MJDF. Namun yang mengajukan adalah pihak penyelenggara sendiri, termasuk dalam pengisian datanya. Kami hanya mendampingi saja, tetapi sampai saat ini juga belum lolos KEN,” ujarnya.

Ia menilai kendala yang dihadapi MJDF tidak jauh berbeda, yakni perubahan jadwal pelaksanaan dari waktu ke waktu.

Adapun Bupati Berau, Sri Juniarsih, menilai pelaksanaan kegiatan budaya Bekudung Betiung di Kampung Tumbit Dayak terus menunjukkan perkembangan dari tahun ke tahun.

Hal itu terlihat dari rangkaian perayaan yang semakin baik, serta meningkatnya antusiasme masyarakat yang datang menyaksikan secara langsung.

Menurutnya, Bekudung Betiung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda budaya yang mampu menarik kunjungan wisatawan.

Karena itu, pemerintah daerah mendorong agar festival tersebut dapat masuk dalam daftar kegiatan adat dan budaya pada KEN yang disusun Kementerian Pariwisata.

Diakui, salah satu syarat agar sebuah event dapat dilirik dalam kalender nasional adalah konsistensi pelaksanaan.

Ia berharap festival Bekudung Betiung dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun dengan waktu dan jadwal yang tetap.

Dengan begitu, wisatawan dari luar daerah dapat menyesuaikan waktu kunjungan mereka untuk menyaksikan langsung tradisi adat tersebut.

Menurutnya, kepastian jadwal akan memudahkan promosi sekaligus memperkuat posisi Bekudung Betiung sebagai agenda budaya unggulan daerah.

“Supaya bukan hanya masyarakat Kabupaten Berau dan Kampung Tumbit Dayak saja yang menikmati acara ini,” ujarnya.

Ia berharap ke depan daya tarik Bekudung Betiung semakin kuat sehingga mampu mendatangkan wisatawan dari luar Berau, bahkan dari mancanegara.

Selain menjaga konsistensi pelaksanaan, Sri Juniarsih juga menekankan pentingnya publikasi yang lebih luas terhadap kegiatan budaya tersebut.

Untuk itu, ia meminta Disbudpar Berau terus meningkatkan upaya promosi serta dokumentasi terhadap berbagai kegiatan adat dan budaya yang ada di daerah.

Melalui publikasi yang lebih aktif, informasi mengenai kekayaan budaya Berau diharapkan dapat diketahui oleh masyarakat luas. (aja/sam)

Berita Terkait