Mediatani. Id, Berau- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau ingin mengaktifkan kembali Tim Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagai upaya memperkuat pengawasan pelaksanaan program tersebut di daerah.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan kualitas makanan, kebersihan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga penggunaan bahan pangan lokal dalam program MBG berjalan optimal.
Asisten III Sekretariat Kabupaten (Setkab) Berau, Maulidyah mengatakan, saat ini di Berau sudah terdapat 16 dapur SPPG. Namun baru 13 dapur yang aktif beroperasi, sedangkan tiga lainnya masih dalam proses persiapan.
Sebelumnya memang sudah ada tim satgas yang dibentuk. Akan tetapi keterlibatan sejumlah unsur, termasuk Tim Penggerak PKK dinilai masih perlu diperkuat agar pengawasan program dapat berjalan lebih maksimal dan berkelanjutan.
“Sayangnya belum ada anggota PKK di Tim Satgas tersebut. Padahal ini berkesinambungan untuk melihat perkembangan anak-anak. Dari situ perlunya tim satgas aktif turun melihat kondisi di lapangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengaktifan kembali Satgas MBG menjadi salah satu hasil rapat evaluasi yang digelar pekan lalu. Dalam rapat tersebut disepakati, koordinasi rutin perlu dilakukan untuk memantau pelaksanaan program MBG di Berau.
“Minggu lalu kami rapat, dan salah satu kesimpulannya adalah mengaktifkan tim Satgas MBG. Minimal satu bulan sekali akan dilaksanakan rapat koordinasi satgas,” katanya, Kamis (21/5).
Selain rapat koordinasi, tim satgas juga dijadwalkan melakukan peninjauan langsung ke dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi dapur, standar kebersihan, hingga proses pengolahan makanan yang nantinya disalurkan kepada para siswa.
“Kami akan turun melihat SPPG-nya bagaimana, dapurnya seperti apa, kehigienisannya bagaimana, sampai makanan yang mereka masak juga akan kami lihat,” jelasnya.
Pihaknya pun sudah mulai membagikan kuesioner kepada siswa, guru, dan orangtua murid sebagai bahan evaluasi program MBG.
Kuesioner tersebut berisi sejumlah pertanyaan terkait kualitas makanan, nilai gizi, hingga penilaian masyarakat terhadap pelaksanaan program.
“Kami ke sekolah membagikan kuesioner untuk guru, murid, dan orangtua. Di situ kami tanyakan bagaimana kualitas makanannya, menurut orangtua apakah sudah bagus, apakah memang layak dan bergizi. Banyak pertanyaan yang tujuannya untuk mengevaluasi MBG di Berau,” terangnya.
Namun, hasil dari pengumpulan kuesioner tersebut hingga kini masih dalam tahap rekapitulasi. Pihaknya masih menunggu hasil penilaian untuk mengetahui masukan yang paling dominan dari para penerima manfaat program.
“Hasilnya memang belum ada, karena masih dikumpulkan. Nanti kami lihat dari skornya, mana yang perlu dievaluasi dan sudah bagus menurut anak-anak maupun orangtua,” ucapnya.
Selain itu, Pemkab Berau juga memantau penggunaan bahan pangan lokal dalam program MBG. Hal itu dilakukan, agar program tersebut ikut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
“Jangan sampai bahan diambil dari luar, padahal di Berau ada. Misalnya, buah jeruk, jangan ambil dari luar kalau di Berau melimpah,” tegasnya.
Untuk jadwal kunjungan ke dapur SPPG, Ia menyebut akan dilakukan secara bertahap. Sejauh ini, tim baru melakukan peninjauan ke dua dapur SPPG yang berada di kawasan BI dan Rinding.
“Harapan kami program MBG ini benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak, baik dari sisi gizi maupun pemanfaatan produk lokal, sehingga pelaksanaannya di Berau bisa terus dievaluasi dan ditingkatkan,” tutup Maulidyah.
Sementara Bupati Berau Sri Juniarsih, menegaskan mendukung pelaksanaan program MBG yang ada di Kabupaten Berau. Program ini sejalan dengan visi kami menciptakan manusia yang cerdas dan berbudi luhur.
“Kita optimalkan sumber daya alam di Berau, seperti ikan dan telur untuk mendukung operasional SPPG,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan potensi lokal, sebagai bahan pangan pendukung program bergizi ini. Pihaknya akan menginstruksikan OPD terkait agar mendukung penuh operasionalisasi SPPG.
“Tentunya MBG juga membuka peluang besar bagi petani dan koperasi lokal untuk menjadi penyedia utama pasokan pangan,” terangnya. (aja/sam)





