Berau Perluas Program Cetak Sawah Hingga 2.000 Hektare, Penguatan Kelembagaan Jadi Motor Penggerak

Oleh
mediatani.id
Diposting
Rabu, 7 Jan 26
Bagikan

Mediatani.id, berau- Upaya penguatan kelembagaan petani di Kabupaten Berau terus menunjukkan hasil positif. Pemerintah daerah tidak hanya menyalurkan bantuan sarana pertanian, tetapi membangun sistem pembinaan yang berbasis kelompok tani sebagai fondasi ketahanan pangan daerah.

Dalam kesempatannya, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Junaidi, menegaskan bahwa hampir seluruh program pertanian saat ini dirancang berbasis kebutuhan riil petani di lapangan.

Kata dia, seluruh usulan yang diajukan kelompok tani (KT) diproses melalui mekanisme resmi dan disesuaikan dengan ketersediaan anggaran.

“Setiap kelompok tani yang mengajukan proposal kita proses. Usulannya datang langsung dari bawah, sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.

Lanjutnya, bantuan yang diusulkan pun beragam, mulai dari pupuk, bibit, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga bibit ternak. Setelah diverifikasi, usulan dilanjutkan ke bupati untuk mendapatkan persetujuan.

Junaidi menyebutkan bahwa keberadaan KT di hampir semua kampung, yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), mempermudah proses pembinaan, pengawasan, dan penyaluran program pemerintah.

“KT itu hampir ada di setiap kampung dan tergabung dalam Gapoktan. Ini sangat membantu agar program tepat sasaran,” katanya.

Selain itu diakuinya, antusiasme petani juga terus meningkat. Pembentukan kelompok baru tumbuh seiring pendampingan intensif Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

Ia menyebut, saat ini Berau memiliki 97 PPL, termasuk sektor perkebunan, sehingga hampir setiap kampung memiliki pendamping aktif.

“Dengan jumlah itu, pendampingan lebih terarah dan aktivitas pertanian lebih terorganisir,” jelasnya.

Menurutnya, sistem kelembagaan petani juga berperan penting dalam transparansi bantuan pemerintah. Setiap program bantuan wajib melalui Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian (Simluhtan), sehingga data petani dan kegiatan kelompok dapat terpantau secara berkelanjutan.

“Kalau ada bantuan, harus masuk lewat Simluhtan. Ini untuk memastikan akurasi data dan keberlanjutan pembinaan,” tegasnya.

Selain memperkuat kelembagaan petani, DTPHP Berau juga melanjutkan program strategis peningkatan produksi, salah satunya program cetak sawah.

Pada 2025, Berau berhasil menambah luas sawah baru seluas 425 hektare. Tahun 2026, target diperbesar secara signifikan menjadi 2.000 hektare.

“Tahun ini kita lanjutkan program cetak sawah. Untuk 2026, target kita 2.000 hektare,” ujar Junaidi.

Program tersebut diharapkan tidak hanya menambah produksi pangan, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat kampung melalui peningkatan aktivitas usaha tani.

Dengan tingginya partisipasi petani, dukungan regulasi, serta pembinaan berjenjang melalui KT dan Gapoktan, sektor pertanian Berau dinilai semakin solid.

Dirinya menambahkan, model pembangunan berbasis kelompok dinilai menjadi kunci keberhasilan, karena keputusan dan kebutuhan tumbuh dari akar rumput.

“Ini bukan hanya soal bantuan, tapi bagaimana petani kuat secara kelembagaan. Kalau kelembagaan kuat, ketahanan pangan juga kuat,” kuncinya.

Berita Terkait