Mediatani. Id, Samarinda- Sektor pertanian, perkebunan, infrastruktur, hingga sumber daya air di Kalimantan Timur perlu mengantisipasi perubahan pola musim hujan 2026–2027. Pemanfaatan informasi iklim sejak tahap perencanaan dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan aktivitas masyarakat dan potensi bencana hidrologi.
Pada Press Release Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Provinsi Kalimantan Timur, pada Jum’at 9 Oktober 2026, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, menegaskan informasi cuaca dan iklim tidak hanya dibutuhkan ketika bencana terjadi, tetapi juga harus menjadi dasar penyusunan program dan kebijakan.
“Informasi iklim perlu dimanfaatkan sejak tahap perencanaan untuk menyusun langkah antisipasi, bukan hanya ketika bencana atau dampak cuaca terjadi,” ucap Riza.
Ia menjelaskan, BMKG memprediksi awal musim hujan 2026–2027 di sebagian besar wilayah Indonesia cenderung mundur dibandingkan kondisi normal. Meski demikian, kondisi setiap daerah berbeda sehingga langkah antisipasi perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan zona musim.
Menurut Riza, informasi prediksi musim juga harus diikuti pemantauan cuaca harian dan pembaruan peringatan dini. Langkah tersebut diperlukan agar pemangku kepentingan dapat menyesuaikan tindakan berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer.
Koordinasi lintas sektor menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat, termasuk antara BMKG, pemerintah daerah, instansi teknis, TNI-Polri, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat.
Melalui kolaborasi tersebut, informasi cuaca dan iklim diharapkan dapat digunakan secara tepat untuk mendukung pelayanan publik, menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
BMKG berharap pemanfaatan informasi iklim secara berkelanjutan dapat memperkuat ketangguhan Kalimantan Timur dalam menghadapi dinamika iklim yang terus berkembang.





