Kukar Paling Terdampak, El Nino Keringkan 2.620 Hektare Lahan Pertanian di Kaltim

Oleh
mediatani.id
Diposting
Kamis, 24 Sep 26
Bagikan

Mediatani. Id, Kaltim- Fenomena El Nino mulai memberikan tekanan terhadap sektor pertanian di Kalimantan Timur (Kaltim). Kondisi kering berkepanjangan membuat ribuan hektare lahan tanaman pangan dan hortikultura terdampak kekurangan air.

Data hingga pertengahan September 2026 mencatat sekitar 2.620 hektare lahan pertanian mengalami dampak kekeringan. Sebagian besar lahan masuk kategori ringan dan sedang.

Sementara itu, sekitar 670 hektare lahan mengalami kekeringan berat dan 333 hektare lainnya dilaporkan mengalami puso.

Kukar Jadi Wilayah Paling Terdampak

Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi salah satu daerah dengan dampak kekeringan terbesar. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Kukar merupakan salah satu sentra produksi pertanian di Kaltim.

Dampak serupa juga terjadi di Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara (PPU).

“Kalau kita lihat, yang terdampak kekeringan ini paling banyak di Kukar karena sebagai pusat produksi pertanian kita. Kemudian di Paser yang juga merupakan pusat produksi pertanian, dan yang ketiga cukup besar terdampak di bulan September di Penajam Paser Utara,” ujar Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, Fahmi Himawan, saat menjadi pembicara terkait menjaga ketahanan pangan Kaltim, Selasa (22/9/2026).

Pada Agustus 2026, luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan bahkan mencapai sekitar 2.730 hektare.

Dari jumlah tersebut, 543,5 hektare masuk kategori ringan, 1.544 hektare kategori sedang, 455 hektare terdampak berat, dan 187 hektare mengalami puso.

Lahan puso pada Agustus tersebar di Paser seluas 49 hektare, Kukar 57 hektare, Kutai Timur 45 hektare, Berau 25 hektare, PPU 7,5 hektare, serta Mahakam Ulu 2 hektare.

“Jadi, di lumbung-lumbung pangan yang mengalami dampak kekeringan terutama yang masih mengandalkan pada hujan,” jelasnya.

Pemerintah Dorong Penggunaan Padi Tahan Kekeringan

Pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menekan dampak kekeringan terhadap produksi pangan.

Upaya tersebut dilakukan lebih awal sebelum puncak kekeringan yang terjadi pada Agustus hingga September. Salah satunya dengan mendorong petani menggunakan varietas padi berumur genjah dan memiliki toleransi terhadap kondisi kering.

“Yang sudah dilakukan selain mengingatkan, kemudian kita mengarahkan agar menggunakan varietas padi yang genjah, tahan kekeringan seperti jenis Inpari atau Inpara,” katanya.

Selain pemilihan varietas, pemerintah mengoptimalkan penggunaan pompa air yang telah disalurkan kepada kelompok tani di berbagai daerah.

Pemerintah juga menyiapkan bantuan bahan bakar minyak (BBM) secara terbatas untuk mendukung pengoperasian pompa, terutama bagi kelompok tani yang menghadapi keterbatasan sumber air.

333 Pompa Disiapkan untuk Hadapi Kekeringan

Sebanyak sekitar 333 unit pompa telah tersebar di kabupaten dan kota di Kaltim. Peralatan tersebut memiliki kapasitas sekitar 3–4 inci dan berasal dari dukungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Pemerintah juga mencatat sekitar 70 unit pompa telah didistribusikan pada 2023. Seluruh peralatan tersebut diharapkan tetap terawat sehingga dapat digunakan ketika petani menghadapi kekeringan.

“Harapannya pompa ini tidak rusak. Usia peralatan kita itu tidak kurang dari delapan tahun. Cuma kadang penempatannya yang tidak tepat sasaran,” ujarnya.

Karena itu, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim mendorong redistribusi pompa ke kelompok tani yang membutuhkan apabila peralatan tersebut belum termanfaatkan secara optimal di lokasi sebelumnya.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses pengairan dan membantu petani mempertahankan produktivitas lahan di tengah kondisi kering yang dipicu El Nino.

Hujan Diprediksi Membaik pada November

Berdasarkan identifikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peluang hujan masih terbuka pada Oktober. Namun, curah hujan diperkirakan masih berada di bawah kondisi rata-rata.

Kondisi yang lebih basah diperkirakan mulai terjadi pada November. Meski demikian, periode hujan diprediksi tidak berlangsung panjang karena pengaruh El Nino diperkirakan masih berlanjut hingga awal 2027.

Pemerintah pun terus mendorong langkah adaptasi agar sektor pertanian Kaltim tetap mampu menjaga produksi dan ketersediaan pangan selama periode kekeringan.

Berita Terkait